Masalah Remaja

Menurut Dariyo (2004), remaja berasal dari istilah Latin “adolescentia” yang berarti masa muda yang terjadi antara 17-30 tahun, sedangkan Gunarsa (Dariyo, 2004) menyimpulkan proses perkembangan psikos remaja dimulai antara 12-22 tahun. Menurut Hurlock (2000) masa remaja merupakan masa mencari identitas atau jati diri. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri-sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status. Dengan cara ini remaja menarik perhatian pada diri-sendiri dan agar dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama ia mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya. Dalam proses pencarian identitas ini, rentan terhadap pengaruh yang negatif akibatnya timbul kenakalan remaja.
Kenakalan remaja adalah perbuatan atau kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja yang bersifat melawan hukum, anti sosial, anti susila, dan menyalahi norma-norma agama. Perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja. Sikap remaja yang menjadi nakal bermula dari keadaan intern keluarga yang kemudian dikembangkan dan ditunjang oleh pergaulan. Tidak jarang pula kenakalan remaja terjadi justru karena meniru perbuatan kawan-kawan sebayanya kemudian didukung dan berkembang di dalam keluarga kedua hal inilah merupakan sebab yang sangat dominan bagi remaja untuk melakukan perilaku menyimpang (Sudarsono, 2004 ).
Pembentukan sikap pada remaja berpengaruh pada aktualisasi diri pada remaja. Sikap tersebut dapat berupa sikap yang positif atau negatif. Menurut Azwar (2002), sikap positif adalah: suatu pola pikir dan perilaku yang menyatakan setuju terhadap suatu objek. Sikap negatif adalah: suatu pola pikir dan perilaku yang menyatakan tidak setuju terhadap objek tertentu. Beberapa faktor yang ikut berperan dalam pembentukan sikap, antara lain:
a. Pengalaman langsung atau pengalaman pribadi yang dapat menjadi dasar pembentukan sikap harus melalui kesan yang kuat. Sikap seseorang adalah pengalaman langsung dari suatu objek atau dirinya sendiri. Sikap yang didapat dari pengalaman langsung akan lebih kuat dan sulit untuk dilupakan dibanding sikap yang dibentuk dari pengalaman orang lain.
b. Kebudayaan mewarnai sikap dan memberikan corak pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Hanya pribadi individu yang kuat yang dapat memudahkan dominasi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.
c. Media massa, sebagai suatu sarana untuk menyimpan informasi, membaca pesan-pesan sugesti yang dapat mengarahkan opini kuat akan memberi dasar efektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arahan sikap.
d. Lembaga pendidikan, meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu sehingga terbentuk kepercayaan yang kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada pembentukan sikap menurut Hurlock (2000) adalah; pengalaman; lingkungan pergaulan; kondisi keluarga; media massa. Kedua pendapat dari Hurlock dan Azwar mengenai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap mempunyai kesimpulan yang sama yaitu sikap dipengaruhi oleh pengalaman, kebudayaan, lingkungan dan media massa.